Skip to main content

Penyakit Bernama Konsistensi (Tulisan untuk Media Indonesia, Rubrik Opini -semoga masuk)

Harus diakui, pengadaan Trans Jakarta sebagai solusi kemacetan merupakan salah satu kebijakan terbaik pemerintah DKI Jakarta. Berbagai cacian dan kritik pedas saat pembangunannya 7 tahun lalu (karena menimbulkan macet luar biasa) seakan lenyap tak bersisa. Saat pertama kali mencoba, penulis pun tak henti-hentinya memuji kualitas pelayanan moda transportasi ini. Baik dari bus baru yang nyaman ber-AC, petugas profesional yang menyenangkan, lajur khusus sepanjang 123,35 Km tanpa kemacetan, serta ongkos jalan yang relatif murah untuk berkeliling jakarta. Itulah awal optimisme kami akan masa depan transportasi di Indonesia, transportasi yang nyaman dan menyenangkan.


Namun alih-alih meningkatkan kualitas pelayanan, Trans Jakarta hari ini bahkan tidak lebih baik dari dahulu kala. Bus baru yang dahulu prima, kini mulai berkarat dan berdecit. Beberapa AC-nya pun tidak lagi dingin. Lajur khususnya mulai bergelombang dan rusak, entah dimakan waktu atau pejabat terkait. Petugasnya pun tak sebaik dulu, beberapa bus seringkali dikemudikan layaknya bus kota yang mengejar setoran (walaupun dikemudikan oleh supir ber-jas & berdasi). Lajur yang dahulu steril kini berubah menjadi jalur cepat bagi kendaraan pribadi. Belum lagi masalah bis yang terlambat/kurangnya armada, antrian yang begitu panjang, serta kriminalitas dan pelecehan seksual yang merajalela. Terus terang kami, 250.000 pengguna setianya sedih, ada apa dengan transportasi kesayangan warga jakarta ini?


Nampaknya pemerintah belum mampu merawat barang mahal; Moda transportasi selevel Trans Jakarta membutuhkan konsistensi akan perawatan fasilitas serta kualitas pelayanannya. Seharusnya  Konsep Kaizen ($K) atau Continuous Improvement diterapkan sehingga makin lama Transjakarta ini berdiri semakin baik pula pelaksanaannya. Evaluasi dan Quality Management pada pelayanan haruslah diperketat, serta aplikasikan hasil evaluasi pada perbaikan yang nyata, sehingga warga jakarta tidak berpikir untuk beralih kembali pada kendaraan pribadinya.
Masih ada waktu untuk memperbaiki, dan kami percaya pelayanan terbaik dari Trans Jakarta akan menjadi faktor penting pengurai kemacetan di kota ‘kusut’ ini.

*Penulis bernama Aditya Rian Anggoro (Ara), Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 

Comments

Post a Comment

Comment adalah sebagian dari iman :D

Popular posts from this blog

Middle Management (Managers): Aset atau beban?

Seringkali middle management dianggap sebagai beban oleh banyak perusahaan dengan berbagai alasan. Gaji yang diberikan cukup besar, namun tidak mengerjakan pekerjaan teknis layaknya staff biasa - dimana bertambahnya man hour tidak melulu berbanding lurus dengan produktifitas. Pekerjaan koordinasi dan 'pembawa pesan' dari atasan kerap menjadi hal rutin saja. Sekadar bemper untuk menyampaikan keinginan bos, sekaligus pendengar keluh kesah tim atas ekspektasi perusahaan yang jauh diatas current capacity. Kuasa dan ruang main nya pun terbatas. Ia dianggap atasan bagi timnya, namun tidak cukup kuat untuk mempengaruhi kemana perusahaan bergerak. “I don’t think you want a management structure that’s just managers managing managers, managing managers, managing managers, managing the people who are doing the work.” Begitu kata Zuckerberg yang diamini oleh Elon Musk. Tidak heran pada masa-masa paceklik, middle management lah sasaran utama efisiensi. Saya beberapa kali berdiskusi, "A...

Jombang dan Rangga Kawin! Sebuah pesan akan kekhawatiran.

Sabtu kemarin, sahabat saya sejak masuk kuliah menikah. Jombang Santani Khairen. Pria nyentrik dari padang ini akhirnya laku juga di pasar bebas, dibeli oleh wanita beruntung (atau bisa jadi sial) berdarah sunda. Keduanya sah secara agama sejak Sabtu, 8 Juli 2017 jam 8.30an lewat sedikit di Jonggol, Kabupaten Bogor. Kiri ke Kanan: Mertua, Jombang, Istrinya, Adiknya Jombang, Ibunya (ketutup) Tabiatnya nggak berubah. Di hari paling seriusnya selama dia hidup, dia masih aja cengar cengir non wibawa. Masih dengan sikap hormat dari pelaminan tatkala melihat saya hadir, masih tawa khasnya saat menutup pernikahan dengan doa. Entah dosa apa yang pernah dilakukan istrinya, J.S. Khairen - panggilan pena nya - adalah pengantin paling tidak serius yang pernah saya lihat. Lu gak bisa serius dikit apa, jom?! Doa itu woi! Penulis berbagai buku best seller terbitan gramedia dan mizan ini merupakan satu dari sedikit "teman tidur" saya di masa kuliah. We've been through a...

Bagaimana Bisa - Tiga Pertanyaan untuk Kita dan Semesta

Bagaimana bisa aku bisa menulis rangkuman masa lalu , bila setiap detik yang berlalu menjadi ceritanya sendiri? Tulisanku berkejaran dengan memori yang terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, lalu terbentur dengan kecepatan jariku merekam setiap kenangan dalam tulisan. Aku hanya ingat samar samar wajah letih seorang perempuan di taman anjing itu, berjalan menyusuri lorong panjang diantara kedai kopi dan pizza, lalu mendekat memanggilku dari belakang. Hmm, sosok yang familiar, namun terasa asing setelah mungkin dua-tiga tahun mengikuti sepak terjangnya di dunia maya. Apa yang aku bisa ingat? Perawakannya yang tinggi putih dengan kacamata besar, pakaiannya cukup manis melengkapi alis ulat bulu dan bibirnya yang tebal. Sisanya, ingatanku memudar seperti lipstiknya kala itu. Mungkin yang sedikit bisa aku ingat adalah caranya bicara dan mendengarkan. Tentang bagaimana ia percaya bahwa produk Apple lebih superior dibandingkan merek gawai lain, tentang kesulitan tidurnya dan apa akar masalahny...