#5: Limitasi #1day1article

Suatu saat, dalam situasi yang terburu-buru, aku memacu motorku cukup kencang. Janji dengan seseorang itu cukup membuatku nekat; menerobos lampu merah, menyalip truk besar, bahkan tak segan memotong kendaraan dari kanan.
Konsentrasi mata pun terbagi dua, mengamati jalan dan jam tangan. Sedetik mengamati waktu, sedetik kemudian larut dalam kecepatan. “Aku tak boleh terlambat” gumamku berulang-ulang.
Singkat cerita, kemudian motorku memasuki terowongan bawah tanah di cawang. Dengan kecepatan tinggi aku terus melibas kendaraan-kendaraan lambat itu. 80km per jam, lalu naik 90km, kemudian genap seratus. Aku menikmati kemenangan, berada di atas kecepatan meninggalkan puluhan mobil di belakang.
Hey….! Tunggu…!
Sekejap kemudian ku tersadar. Seratus kilometer per jam?
* * * * * *
Kawan, kita bicara soal limitasi; Batasan. Sebentuk stigma dalam diri manusia yang membentuk kata “bisa” dan “tidak bisa”. Stigma ini berada di alam bawah sadar manusia, tidak bisa dikendalikan namun terasa efeknya.
Limitasi ini bersifat subjektif; Setiap orang memiliki batasannya masing-masing yang dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya Wawasan, pergaulan, kapabilitas pribadi, pengalaman dan mainstream umum. Wawasan, pengalaman, dan kapabilitas menjadi faktor utama penentu limitasi seseorang, sementara mainstream umum dan pergaulan mendukung naik turunnya batasan ini
Sebuah Contoh: Jika ditanyakan, “Apakah kalian bisa terbang?” maka jawabannya pun tergantung SIAPA yang ditanya
Jika masyarakat umum yang ditanya, mungkin jawabannya
“bisa, kita bisa naik pesawat atau menyewa gantole”. 
Jika teknisi dari NASA yang ditanya, mungkin ia akan menjawab
“Jelas Bisa. kita bisa menggunakan tas dengan peluncur jet pribadi, dimana sistem penggunaannya adalah blablabla…”
Jika orang-orang yang hidup sebelum jaman wright bersaudara, mungkin jawabannya akan:
“Kau pikir saja sendiri. Memangnya manusia punya sayap! Dasar bodoh!”
* * *
Dalam konteks cerita diatas, seratus kilometer per jam bukanlah biasa bagi penulis. Jujur saja, sejak kecil nafas selalu sesak apabila menaiki motor dengan kecepatan diatas 70-80km/jam. Sempat dikira epilepsi bahkan asma.
Namun hari ini, akhirnya kejadian ini berhasil membuktikan sesuatu. Walaupun secara tak sadar, penulis bisa membuktikan bahwa kecepatan bukanlah masalah yang berarti lagi, dan bisa ditaklukkan.
Maka beberapa hal tentang limitasi yang harus kita pahami, bahwa:
Batasan pada tiap manusia ternyata tidak nyata. Ia ada karena kita yang membuatnya sendiri.
Sejarah membuktikan berulang kali, limitasi pada beberapa kelompok masyarakat dipecahkan beberapa waktu kemudian.
Berapa banyak manusia yang berpikir bahwa perjalanan dari jakarta ke bandung itu lama, saat di belahan dunia lain diciptakan pesawat jet pribadi?
Berapa lama manusia berpikir tidak mungkin menyelam lebih dari 10 menit, saat manusia lain membuktikan ia bisa satu hari penuh di dasar laut dengan tabung oksigen
Untuk memahami bahwa batasan itu tidak ada, kita harus mencoba dan melewati batasan itu sendiri
Keyakinan tak akan sedemikian kuat ketika kita tidak mengalaminya sendiri; tidak melihannya sendiri, tidak mendengar dengan kedua telinga sendiri, tidak melakukannya sendiri
Dan yang terpenting adalah KEYAKINAN bahwa batasan itu BISA ditembus walau dengan kerja keras, darah dan air mata
betapa banyak manusia yang terkungkung didalam pikirannya sendiri. Terus berkutat dengan confidence, perasaan yakin tak yakin yang ada dalam dirinya. Terus meragukan kemampuannya, tanpa mau berlatih, gagal, dan terus mencoba.
Maka dengan tiga hal tentang limitasi ini, penulis berharap siapapun yang membaca bisa menyadari, bahwa limitasi itu tidak ada. Saking hebatnya otak kita, sehingga mampu menjebak diri kita sendiri. LAWAN! Anda adalah manusia-manusia terhebat tanpa batas yang bisa melakukan apapun!
Coba, berjuang, dan pastikan bahwa batasan itu tidak pernah bisa membatasi kita melakukan apapun.
Cheers
ARA

L-O-V-E


L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you adore can

Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don’t break it
Love was made for me and you
Love was made for me and you
Love was made for me and you
-Nat King Cole
Dua postingan terakhir bahasannya serius banget, malem ini ngegalau bentar boleh kali ya? hehe :D
L.O.V.E, lagu lama yang banyak banget di remix dan dinyanyiin. Tapi pertama gw denger dinyanyiin asik itu sama dr. Tompi, anak FKUI yang tersesat itu. Enak, santai, dan gombal banget. Coba aja nyanyiin ke cewek pujaan lo, pasti semaleman nggak bisa tidur! Dijamin! *pengalaman pribadi
So dunia remaja saat ini penuh dengan cinta. Entah cinta monyet atau babi, atau apalah itu namanya. Yang agak alim dikit pasti pernah denger istilah VMJ, virus pink, etc.
Lebih jauh lagi hubungan pun macem-macem. Paling umum ada temenan, sahabatan, sodaraan, sampe pacaran, HTSan, saling komitmen, taaruf, khitbah, daaan sebagainya blablabla. Baanyak banget pertentangan tentang aplikasi dari cinta. Ada yang mau langsung nikah, ada yang pacaran gak nikah nikah, bahkan ada yang nggak nikah dan nggak pacaran!«
Hey guys, lepas dari benar atau salah, agama apapun, suku ras dan budaya apapun, cinta itu kekal! dan ia akan terus ada menghangatkan dunia kita semua!
Jadi daripada kelamaan dan tulisannya sebenernya nggak meaning banget hahaha mending langsung liat video gw nyanyi aja ya disini :D
Mohon maaf kalo agak aneh, ini video pertama gw di youtube. Semoga nggak pada bunuh diri abis nonton. Kalo bisa pamit dulu sama orang tua, bikin surat warisan. Siapa tau muntah darah atau stroke berat setelah detik ke 19. :P
At the end…..enjoy!



#2: Nilai sebuah Cakwe #1day1article

(tulisan ini merupakan wujud komitmen gw untuk menulis satu tulisan setiap hari. Gerakan pribadi #1day1article untuk membiasakan keterampilan menulis, sarana berbagi idealisme dan inspirasi, demi civil society yang lebih baik) 


Gerimis petang ini sungguh bermanfaat; Udara bersih tak berdebu, namun mobilitas tak terhalang oleh deras hujan. Situasi ini menyenangkan setelah memacu mobil dengan kecepatan tinggi. “Gila Dasar…” kata adikku, Dinar. “Presentasi jam setengah 4 kok berangkat 10 menit sebelumnya”. Hehe, mau diapain lagi, kebiasaan procrast ini harus segera dibenahi memang.
Presentasi selesai, keluar dari ruangan. Aku pun bersalaman dengan inspiring-dosen-gaul Pak Adi Zakaria, konsolidasi tim tentang jadwal brainstorming pembuatan paper, mampir ke makara (cari sinyal), trus langsung menuju kosan. Mau ngobrol sama luqman syauqi, Kepala Kompartemen Humas dan Medianya HIPMI UI. Asik nih, gaul sama anak IT dan ngobrolin masa depan organisasi. Lagi-lagi, passion itu bikin hidup lebih hidup!
Namun tulisan ini tak membahas presentasi MPH tentang kulit buatan, ide ide cemerlang luqman,  atau bagaimana rasa sate ayam yang sepertinya-sedikit-agak-kurang-enak itu. Aku lebih suka membahas tukang cakwe yang mangkal di depan pokus wanita. Seorang pria, 35-40 tahunan, dengan wajan berasap terkepul dan cakwe matang yang sudah ditiriskan. Aku yang tiba-tiba kangen jajanan putih-merah, merogoh kantong, dan segera ambil langkah maju jalan.
“Bang beli dong, hehehe”
“Mau beli berapa, dik?” tanya abangnya ramah
“(bingung) nggg….berapa ya?“ Ujarku bingung. Ara kecil nampaknya lebih pintar dalam menentukan jumlah barang yang dibeli; semakin besar semakin bodoh rupanya. *sigh
“5000 deh bang”
“Oh boleh dek. Ini dibungkus kan ya? Sambelnya mau dipisah?”
“Nggak usah bang, dicampur aja. Mau dimakan sambil jalan”
 “Oh, mau makan sendiri? Gimana kalau belinya 2000 atau 3000 aja? Takut nggak abis, soalnya lima ribu itu kebanyakan. Sayang kalo dibuang, nggak tega sama makanannya.” Jawab tukang cakwe itu
DEGH…Subhanallah..
Ada kehangatan menyeruak dalam hati; Seorang pedagang cakwe, yang biasanya berorientasi pada profit semata, kini berbeda. Pedagang pinggiran yang biasanya menurunkan kualitas, memakai bahan berbahaya, membohongi pelanggan, kini berbicara nilai-nilai kemubaziran. Menolak uang! Sekali lagi menolak uang demi kebermanfaatan setiap inchi cakwenya.
Oh mungkin ia takut pada dewi sri, sang dewi panen yang menangis kala makanan terbuang; Atau ia percaya tahayul tentang makanan sisa; atau ia terlalu angkuh untuk membiarkan cakwenya tidak termakan
Atau ia hanya berharap suatu hal sederhana, sebuah ketulusan, keteguhan hati. Nilai-nilai lama yang tlah lama dilupakan. Bahwa makanan adalah rahmat, dan kita harus bersyukur dengan menghabiskan apa yang kita ambil. Ia tak ingin berdosa dengan membiarkanku membeli terlalu banyak; Sedikit, sesuai porsimu saja. Kurang tak baik, berlebih pun tidak
Aku termenung cukup lama, mengambil kembalian, kemudian mengembalikannya karena kelebihan seribu rupiah. Ada kehangatan dalam matanya, ada cinta dalam setiap bulir tepung, ada harapan dalam kepulan wajannya, ada mimpi yang terkandung di pedas air cabainya
Nilai adalah kita; Tradisi adalah identitas. Hanya dengan mengingatnya, kita bisa mengenal kembali jati diri setelah lama hilang di hutan penuh binatang egois dan pragmatis ini. Semoga..

#1: Menciptakan Masa Depan #1day1article

(tulisan ini merupakan wujud komitmen gw untuk menulis satu tulisan setiap hari. Gerakan pribadi #1day1article untuk membiasakan keterampilan menulis, sarana berbagi idealisme dan inspirasi, demi civil society yang lebih baik)
Menciptakan Masa Depan
Sabtu-minggu, 17-18 Desember 2011. Suasana #SARASEHAN Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) UI di ciputat memang sangat menyenangkan; SEMUANYA, sungguh menyenangkan. Thanks to Abah Rahardjo, kami bisa menikmati rumah sebesar dua kali lapangan bola, plus graha bergaya bali-betawi, jawa, gebyok, pameran lukisan-mebel-parfum-mobil-motor-patung. free of charge, bahkan ditraktir makan dua kali. Anehnya, beliau malah bilang makasih, katanya dikasih kesempatan untuk sedekah.
“We’re quit from our life, lost in passion”
Kami keluar dari keseharian, dari rutinitas yang menjemukan. Berjumpa dengan Abah sang sesepuh filosofis, Pengusaha sukses macam Bang Ridha Sabana (Ketua 1 HIPMI), bang ady, Bang Parlin (korwil Indonesia tengah), serta bang Khalid yang mau jauh-jauh datang ke ciputat dan hanya bertemu kami para anak ingusan.
Lebih jauh lagi, kami menemukan keluarga baru yang curiously passionate terhadap bidang yang sama. Entah baru berapa menit kami bertatap muka, rasanya perasaan ini lebih kuat dari persaudaraan teman bertahun tahun. Kekuatan mimpi yang menyatukan kita; sebuah visi bersama untuk tidak membebani negara dengan menjadi pekerja lagi.
***
“Silahkan dibuka kembali matanya. Mungkin ini merupakan legitimasi yang kuat; Sangat kuat untuk bisa memimpin kita semua, membawa organisasi ini bermanfaat bagi semua”
semuanya bersorak, tangan pun berjabat
Innalillahi wa Inna Ilaihi raji’un
Ya, amanah pun telah digulirkan, kembali. Seperti apa yang pernah terbaca, amanah adalah kekal. Hukum kekekalan amanah mengatakan “Amanah tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Amanah hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya”
Apa yang terjadi adalah sebuah perguliran tanggung jawab. Setelah selesai dengan UI Studentpreneurs, nampaknya pekerjaan yang jauh lebih besar sudah menanti. Ia bernama HIPMI UI. Organisasi prestisius, terdiri dari puluhan Studentpreneurs-sebutan untuk anggota HIPMI UI- yang siap mengabdi.
Dibalik namanya yang besar, ‘rumah’ ini nyatanya masih kosong; Ini tugas kami untuk mengisinya. Entah berapa banyak sujud yang harus kuhantarkan karena IA mengantarkan orang-orang ini. Mereka ,entah malaikat entah manusia, yang berkomitmen penuh terhadap apa yang mereka cintai. Mau berkontribusi penuh, melepaskan jabatan-jabatan penting yang ditawarkan diluar sana. Bersedia menjadi inisiator, konseptor, hingga kerja kotor. BERANI dan PERCAYA pada mimpi, walau keberhasilan tak pernah diasuransikan.
“Betapa beruntungnya aku, betapa beruntungnya organisasi ini”
Kepercayaan sudah teremban. visi sudah ditulis, terukur dan jelas tujuannya. Apalah arti retorika, kini jargon kami -kata dahlan iskan- tinggal “kerja, kerja, kerja!”. Mungkin masa depan tak bisa dipastikan, tapi satu cara untuk memastikannya adalah dengan menciptakannya.

Selasa, 20/12/11. 11.00AM
Ditulis dengan penuh syukur dan harapan
Ara

Dibayar melayani, atau melayani dibayar?

"Pekerja dibayar untuk melayani, sedangkan pengusaha melayani pasti dibayar" -Kang Rendy  


Tiba-tiba saya terhenyak; Ucapan kang Rendy (dalam rangkaian seleksi UI Studentpreneurs tahap II, 24/9/11) jelas meluluh-lantakkan atap paradigma, membiarkan cahaya masuk dan menerangi ruang pikiran yang semula gelap tanpa pelita. Ada tensi besar dalam kata 'melayani'. Semakin jauh dipikirkan, semakin menemukan bahwa esensi bisnis adalah memang kegiatan untuk melayani orang lain. 

Kawan, Pola pikir dibayar-melayani dan melayani-dibayar ini patut dipelajari dan direnungkan. Seorang entrepreneur bukanlah manusia yang semata mencari uang untuk hidup. Berapa banyak dari kita yang terjebak pada pola pikir sempit tentang kaya dan miskin, tentang nilai bagus dan nilai jelek semata demi mencapai kebahagiaan (Secara pribadi saya mengutuk tayangan televisi selalu menampilkan kasta sosial sbg kaya dan miskin). Memang benar kekayaan adalah salah satu variabel, namun hidup bukan hanya soal kemakmuran kan? Terlalu banyak variabel yang diacuhkan jika kita tidak mau membuka mata hati dan pikiran.

Ketika orang lain terperangkap pada mainstream lama, Entrepreneur justru hidup UNTUK melayani, mempermudah kehidupan dan memberikan kesenangan/kebahagiaan pada orang lain. Melayani orang lain membuat mereka merasa 'hidup' dan bermakna. Mempermudah keseharian dan memberdayakan masyarakat sekitar adalah cita tak terhingga dan tak ternilai oleh apapun juga.

Jika para entrepreneur menggunakan sistimatika berpikir ini, akhirnya bisnis-bisnis yang tercipta akan mengacu pada kebutuhan masyarakat, bersifat mengakar dan memiliki dampak sosial positif bagi sekitarnya. Inovasi-inovasi pun akan terus terakselerasi karena sang pengusaha ingin berlomba melayani dan memberi kemudahan. Efeknya akan berlipat ganda bila entrepreneur satu dan lainnya saling mendukung, berkolaborasi untuk kebaikan dan keuntungan semua pihak. Bayangkan kawan, betapa pesat kemajuan indonesia bila situasinya seperti ini!

Tentu saja dalam konteks ini bisnis tetaplah bisnis, artinya setelah melayani ada timbal balik yg diberikan. Namun yang ingin saya garis bawahi adalah niat dasar yang menjadi fondasi tindakan. Value tersebut haruslah terbaik, yang paling mulia. karena Idealisme seorang pengusaha jauh lebih penting dari sekedar profit dan keuntungan belaka.

Cukup berdialektika. Mari lihat sekeliling kita, dan fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk melayani orang lain. Just Do It Now! Mulai dari hal yang kecil, dari diri sendiri, dan dari saat ini juga.

Welcome to the world of entrepreneurship, the world of serving others.

Senin, 26 September 2011 pukul 01.22

Ara (Aditya Rian Anggoro)
Project Officer UI Studentpreneurs 2011
@Aradityarian, @studentpreneurs
www.uistudentpreneurs.com

Rombak Sistem Evaluasi Pendidikan Indonesia!

“Adalah tugas kebodohan untuk belajar agar menjadi pintar.  Adalah tugas kepintaran agar belajar menjadi bijak.” –Prie G.S.1

Luar biasa kawan. Kasus Nyonya Siami dari Surabaya sontak membuat Indonesia terguncang hebat. Betapa tidak, kejujuran sebagai nilai luhur utama seorang terdidik malah diberangus oleh pendidiknya sendiri. Bangsa ini seakan baru sadar tentang adanya dekadensi moral sistemik yang dibuat oleh pemerintahnya. Pemerintah yang menutup mata – yang naif!- yang seakan tak mau tahu masalah yang terjadi dalam prakteknya di lapangan.

Orientasi yang salah

Semua kebobobrokan ini diawali oleh sebuah ujian yang bernama Ujian Nasional (UN). Niat baik pemerintah dalam menstandardisasi pendidikan seluruh indonesia cukuplah patut diapresiasi, mengingat perlu adanya kualikasi tertentu seorang anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap negara pun memang seharusnya memiliki sistem evaluasi yang baik, untuk menakar seberapa berhasilnya kegiatan belajar-mengajar di tiap daerahnya.

Namun apa mau dikata, pola evaluasi macam ujian nasional malah merusak tujuan pendidikan dan evaluasi itu sendiri. Status lulus atau tidak lulus yang dihasilkan, yang hanya melihat faktor benar-salah dalam UN, kemudian lambat laun mengacaukan orientasi pendidikan. Tengoklah sekolah saat ini, tujuan mereka hanya satu: meluluskan siswanya atau lulus dari sekolahnya.

Bagi siswa, ketidak-lulusan adalah cap gagal terbesar. Kelulusan yang baik adalah kebanggaan bagi dirinya. Bagi sekolah, persentase kelulusan siswa artinya peringkat sekolah yang lebih baik, apresiasi bagi kepala sekolah dan jajarannya, serta implikasi yang menyatakan bahwa sekolah ini merupakan sekolah yang berkualitas. Begitu pula sebaliknya.

Maka, berubahnya orientasi makin menjauhkan profesi guru dari istilah pendidik, pengajar, bahkan kini hanya sebagai pelatih soal dan pemberi jawaban soal latihan. Siswa pun kini hanya sebagai robot-robot malang yang dipenuhi rumus serta hapalan soal. Orientasi pendidikan rusak parah.

Korban prematurnya sistem

Bagaikan kartu domino, masalah ini kian merembet jauh. Orientasi yang salah pada pendidikan membuat setiap elemen menghalalkan segala cara dalam mencapai standar yang ditetapkan. Setiap siswa berusaha keras belajar di bimbingan belajar (bahkan tidak hanya satu), setiap guru mati-matian melatih siswanya mengerjakan soal. Waktu belajar di sekolah ditingkatkan, dari pagi hingga petang terus saja berlatih, soal ke soal, hari, minggu, dan sepanjang tahun

Pada saat ujian? Jangan ditanya. Saya yakin sebagian sekolah di Indonesia melakukan hal yang sama. Siswa mengumpulkan uang untuk membeli kunci jawaban, entah siapa oknumnya. Berbagai cara kreatif dilakukan anak-anak itu: mencatat di meja, mengkoordinasikan kode-kode tertentu, membagi peran dalam membagi jawaban. Hal ini merupakan inisiatif murni dari tiap anak, tiap sekolah dan daerah dalam mensukseskan tujuan ‘lulus 100%’-nya.

Guru pun tak mau kalah. Banyak pengawas yang bersekongkol dalam memudahkan anak-anaknya bersontek ria. Ada yang hanya membiarkan, ada pula yang sengaja menyuruh bahkan memberikan kunci jawaban yang telah dibuat oleh ‘tim sukses’ sekolah. Oh ya, saya lupa mengatakan bahwa setiap sekolah juga memiliki tim sukses dalam meluluskan semua siswanya. Kepala sekolah juga bermain dengan lobi-lobinya, yang dapat dipastikan cantik dan lincah pada dinas pendidikan terkait.

Ini nyata kawan! Bukan rahasia lagi, saya yakin anda juga mengetahuinya, namun tabu dalam membicarakannya secara terbuka. Saya, kamu, siswa itu, guru-guru dan kepala sekolah yang terhormat adalah korban dari prematurnya sistem evaluasi pendidikan di Indonesia.

Rombak Sistem Pendidikan Sekarang Juga!

Kebusukan sistemik pada pendidikan indonesia ini sudah berlangsung amat sangat lama. Banyak yang gerah, namun tak kunjung dihilangkan mengingat pos anggaran yang begitu besar pada proyek ini. Siapa yang diuntungkan kami tak mau tahu, namun jelas kami rakyat indonesia dirugikan dalam bobroknya sistem ujian nasional

Di negara berkembang seperti Jerman, sistem pendidikan tidak serta merta mematikan seseorang ketika tidak lulus, bahkan sudah diklasifikasikan sejak awal. Setelah lulus sekolah dasar, siswa dihadapkan pada 3 jenis sekolah, yaitu Gymnasium, Realschule atau Berufschule.
Gymnasium diperuntukkan bagi siswa-siswa pandai yang dianggap mampu melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Jenjang ini ditempuh mulai dari kelas 7 – 13, dan setelah lulus mereka diberi ijazah yang dikenal sebagai „Abitur“. Jadi sebelum masuk ke perguruan tinggi, seorang siswa menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah selama 13 tahun. Berufschule diperuntukkan bagi siswa-siswa yang langsung dipersiapkan memasuki dunia kerja dan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Sedangkan Realschule ada di tengah-tengah keduanya. Kalau dianggap bagus, siswa dari Realschule bisa meneruskan ke Gymnasium untuk mendapatkan Abitur, atau bisa juga langsung memasuki dunia kerja.2
Dengan sistem sebaik ini, maka dipastikan definisi kelulusan akan lebih fair. Setiap siswa sudah dipersiapkan pada bidangnya masing-masing, apakah akademisi, praktisi, atau memiliki kesempatan di keduanya.

Karena itu, seharusnya, pemerintah tidak hanya menggunakan UN sebagai parameter keberhasilan pendidikan di Indonesia. Masih banyak kepintaran-kepintaran lain yang kiranya bisa bermanfaat bagi bangsa namun tidak dapat ditakar oleh alat ukur bernama UN. Maka mengembalikan beberapa porsi kelulusan pada sekolah masing-masing saya pikir akan lebih bijak mengingat sekolah sebagai stakeholder utama yang mengetahui persis performa setiap siswa.

Dan terakhir, secara normatif, saya ingin mengajak anda semua yang membaca artikel ini, untuk mengakhiri tirani pendidikan busuk ini. Kegagalan sistemik seperti ini memiliki potensi kehancuran di kemudian hari ketika tidak diatasi dengan baik. Anak-anak hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Jika pemimpin dididik dengan sistem seperti ini, mau jadi apa Indonesia sepuluh, dua puluh, limapuluh, atau seratus tahun mendatang? Kita tidak butuh anak-anak yang sekedar bijak, tapi kita ingin anak yang bisa melompati pilar kepintaran menuju kebijakan.

 Referensi

(lagi-lagi) Sepeda dan Pertanyaan Retorisnya



Rasanya retoris; Kampanye bersepeda ke kampus sudah lama dilakukan banyak orang, baik pihak pemerintah, kampus, bahkan komunitas mahasiswa pencinta sepeda. Tanyalah sembarang mahasiswa, maka tak ada satupun dari mereka yang meragukan 'khasiat' model transportasi ini. Semuanya mengakui bersepeda itu sehat, 'menggowes' itu mengurangi polusi, mencegah global warming. Ya, semua orang tahu akan hal itu.

Namun mengapa kegiatan bersepeda di kampus masih tergolong minim? Dan mengapa akhir-akhir ini sepeda menjadi digemari kembali kawula muda Indonesia?

Bersepeda itu tidak (dianggap) Keren!

Kita harus mengakui satu hal. Bersepeda itu tidak (dianggap) keren. Stigmatisasi yang dilakukan pariwara sepeda motor atau mobil jelas mengalahkan popularitas sepeda sebagai alat transportasi masa kini. Sepeda itu manual dan capek. Jelas berbanding terbalik dengan tren pasar yang semakin otomatis. Mobil/motor gigi otomatis, stander otomatis, lampu otomatis, kemudi otomatis.

Harga barang-barang otomatis tersebut pun semakin terjangkau akibat produksi massal dan permintaan yang membludak. Di sisi lain harga sepeda yang layak dan bagus pun semakin mahal akibat kurangnya permintaan. Walhasil, semakin hilanglah sepeda dari tren pasar transportasi Indonesia, khususnya mahasiswa

Masyarakat konsumtif yang latah tren

Jangan dikira naiknya popularitas sepeda belakangan ini akibat sadarnya masyarakat akan manfaat sepeda. Seperti blackberry, boyband korea, dan behel (kawat gigi), kini konsumsi pun meningkat di ranah sepeda. Fixie, sepeda dengan gigi tetap/fixed gear kini booming di pasaran.

Hal menarik yang patut dicermati disini adalah naiknya branding sepeda di mata masyarakat Indonesia. Berkat fixie, kini pemilik sepeda tidak lagi malu menggunakan sepedanya untuk berpergian. Kebanggaan akan kepemilikan sepeda mulai tumbuh kembali, komunitas kembali bergairah. Industri sepeda pun tak ketinggalan mengeluarkan model-model baru yang semakin menyemarakkan pasar baru sepeda tanpa rem ini.

Layaknya dua mata pisau, konsumerisme dalam ranah sepeda bisa berakibat positif atau negatif. Tingginya permintaan akan barang yang dipengaruhi tren membuat indonesia menjadi surga pasar barang-barang dari negara lain. Orientasi konsumsi berlebihan akan menurunkan produktifitas dan kreativitas. Pada jangka panjang ini sangat berbahaya mengingat neraca perdagangan Indonesia selalu defisit pada produk-produk siap pakai.

Namun sisi baiknya, semakin banyak orang yang menggunakan sepeda. Jika dalam konteks ini mahasiswa, maka kuantitas kendaraan yang masuk kampus menjadi berkurang. Kesehatan mahasiswa pun meningkat secara tidak langsung, dan dalam jangka panjang terbentuklah mahasiswa yang memiliki raga bugar, dan kualitas penyerapan ilmu yang lebih maksimal

Akhir kata, sepeda tetaplah alat transportasi yang hanya bisa digowes tanpa berkata apa-apa. Tinggal bagaimana stakeholder terkait bisa memanfaatkan animo masyarakat untuk kemaslahatan Indonesia yang lebih baik

Penyakit Bernama Konsistensi (Tulisan untuk Media Indonesia, Rubrik Opini -semoga masuk)

Harus diakui, pengadaan Trans Jakarta sebagai solusi kemacetan merupakan salah satu kebijakan terbaik pemerintah DKI Jakarta. Berbagai cacian dan kritik pedas saat pembangunannya 7 tahun lalu (karena menimbulkan macet luar biasa) seakan lenyap tak bersisa. Saat pertama kali mencoba, penulis pun tak henti-hentinya memuji kualitas pelayanan moda transportasi ini. Baik dari bus baru yang nyaman ber-AC, petugas profesional yang menyenangkan, lajur khusus sepanjang 123,35 Km tanpa kemacetan, serta ongkos jalan yang relatif murah untuk berkeliling jakarta. Itulah awal optimisme kami akan masa depan transportasi di Indonesia, transportasi yang nyaman dan menyenangkan.


Namun alih-alih meningkatkan kualitas pelayanan, Trans Jakarta hari ini bahkan tidak lebih baik dari dahulu kala. Bus baru yang dahulu prima, kini mulai berkarat dan berdecit. Beberapa AC-nya pun tidak lagi dingin. Lajur khususnya mulai bergelombang dan rusak, entah dimakan waktu atau pejabat terkait. Petugasnya pun tak sebaik dulu, beberapa bus seringkali dikemudikan layaknya bus kota yang mengejar setoran (walaupun dikemudikan oleh supir ber-jas & berdasi). Lajur yang dahulu steril kini berubah menjadi jalur cepat bagi kendaraan pribadi. Belum lagi masalah bis yang terlambat/kurangnya armada, antrian yang begitu panjang, serta kriminalitas dan pelecehan seksual yang merajalela. Terus terang kami, 250.000 pengguna setianya sedih, ada apa dengan transportasi kesayangan warga jakarta ini?


Nampaknya pemerintah belum mampu merawat barang mahal; Moda transportasi selevel Trans Jakarta membutuhkan konsistensi akan perawatan fasilitas serta kualitas pelayanannya. Seharusnya  Konsep Kaizen ($K) atau Continuous Improvement diterapkan sehingga makin lama Transjakarta ini berdiri semakin baik pula pelaksanaannya. Evaluasi dan Quality Management pada pelayanan haruslah diperketat, serta aplikasikan hasil evaluasi pada perbaikan yang nyata, sehingga warga jakarta tidak berpikir untuk beralih kembali pada kendaraan pribadinya.
Masih ada waktu untuk memperbaiki, dan kami percaya pelayanan terbaik dari Trans Jakarta akan menjadi faktor penting pengurai kemacetan di kota ‘kusut’ ini.

*Penulis bernama Aditya Rian Anggoro (Ara), Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 

Salah Kaprah Pluralisme

Tak lekas hilang dari ingatan kita, sebuah film yang menyeruak beberapa waktu yang lalu. Film yang menarik 30.000 penonton hanya dalam waktu satu minggu kemunculannya, menghebohkan Indonesia dengan konsep-konsep kontroversial. Judulnya pun tidak biasa: Film Tanda Tanya (?)

Sebenarnya, alur ceritanya yang diciptakan Hanung Bramantyo cukup menarik. Realitas konflik antar agama yang terjadi, lika liku kehidupan yang dikontraskan dengan hubungan transedental manusia dengan penciptanya. Secara sinematografi, ini merupakan karya seni anak bangsa yang menakjubkan. Namun dilihat dari sisi agama? Hmmm mari kita bicarakan lebih lanjut.

Ide perdamaian yang diusung berasal dari pemikiran tentang pluralitas bangsa Indonesia. Jika multikulturalisme berusaha mencari perbedaan dan menganggapnya sebagai anugerah, pluralisme mencari kesamaan pada tiap-tiap elemen dan berusaha menyatukannya pada tujuan tertentu. Ketika pluralisme diaplikasikan dalam hal kesukuan, adat istiadat, atau budaya tentunya akan sangat baik, tapi 
tidak dalam kehidupan beragama. Perlu kehati-hatian dalam intepretasinya.

Pada dasarnya, agama itu aksiomatik. Ia akan membenarkan dirinya sendiri dan menganulir agama lain yang tidak sejalan. Contohnya, apabila seseorang menganut agama islam, maka ia akan menanggap agama Islam lah yang paling benar dibandingkan agama lainnya. Ia juga berhak mengatakan bahwa agama lain itu salah, tidak akan masuk surga, kafir, dsb. Itu adalah ajaran agamanya dan merupakan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.  Begitu pula dengan agama lain, hak mereka untuk membenarkan dan menganulir sama besarnya.

Tentu saja, perilaku atas penegasian tersebut bukan berarti anarkis, lalu menghancurkan atau membinasakan mahluk lainnya. Kita bicara dalam tataran ideologi dan kepercayaan. Segala perilaku tentunya kembali pada agama itu sendiri dan bagaimana negara mengaturnya dalam undang-undang.
Nah, ketika paham pluralis masuk dan mengakomodasi perbedaan ini, banyak sekali friksi dan pertentangan yang terjadi. Bagaimana tidak? Paham ini berusaha mengeneralisir bahwa semua agama adalah sama. Ketuhanan yang maha esa menjadi tujuan utama, sedangkan agama hanya menjadi cara untuk mencapainya. Layaknya  anda berpakaian, menutupi aurat dan menjaga suhu tubuh adalah tujuan utama, sedangkan agama diibaratkan sebagai warna baju yang bebas anda ganti ganti. Hari ini hijau, besok jadi ungu, satu minggu kedepan berubah menjadi cokelat bukan masalah. Yang penting tujuannya sama, caranya baik, dan tidak mengganggu orang lain. Besok ke masjid, minggu ke gereja pun bukan hal besar

Hey kawan! Inilah yang disebut dengan pendangkalan aqidah! Orang yang menganut paham seperti ini bisa dikatakan benar-benar dangkal dalam memahami agama. Secara filosofis, sebenarnya agama tercipta dari perbedaan konsepsi ketuhanan. Mengapa ada katolik dan protestan? mengapa Hindu Budha tidak menjadi satu? Karena memang Tuhan yang dipercaya berbeda! Agama adalah identitas dari masing-masing konsepsi tersebut.

Pluralisme yang menyamakan tuhan seluruh agama inilah yang sama sekali tidak masuk diakal. Menyamakan semua tuhan berarti menyamakan semua agama. Mempercayai tuhan dari agama lain, berarti tidak menganggap tuhan sendiri yang paling benar. Menganggap agama lain sama dengan agamanya, berarti menganggap agamanya bukan merupakan agama yang paling benar. Saat orang mempercayai bahwa semua agama itu benar, maka dengan kata lain ia menganggap semua agama itu salah. Atheisme model baru berkedok humanisme yang membahayakan aqidah setiap agama, bukan hanya Islam (seharusnya).

Film tanda tanya merupakan wujud keprihatinan sang sutradara terhadap anarkisme di Indonesia. Niatnya baik, hanya cara dan pemahamannya yang harus diperbaiki, sehingga tidak menimbulkan salah kaprah ,pemahaman yang menyesatkan, serta kontroversi ditengah masyarakat. Baik kontroversi yang direncanakan atau tidak.

Diluar itu semua, adanya anarkisme membuktikan ketidakmampuan negara dalam mengelola konflik horizontal antar dan intra umat beragama. Pemerintah seharusnya memiliki  bisa lebih berperan besar dalam menyikapi polemik yang terjadi, menjadi mediator dan fasilitator sehingga tercipta negara kesatuan republik indonesia yang lebih nyaman untuk semua.

Pembuktian Terbalik

Saat kau merasa bahwa semua waktu yang kau miliki tak bisa menjadi apa-apa, saat kau merasa semua usaha daya dan upaya tak menjadi rupa, saat kau merasa hidupmu sia-sia
Karena kau merasa bisa melakukan segalanya TAPI malas. Mampu mengerjakannya sendirian TAPI lebih senang melakukan yang lain. Ingin bekerja TAPI menunda dan akhirnya tak selesai
ini saatnya lakukan pembuktian terbalik
Jika kau pikir melakukan suatu pekerjaan itu hal mudah, sekarang anggap itu sulit sampai kau berhasil menyelesaikannya
Jika kau pikir menepati janji itu mudah, maka pikirkan segala rintangan hingga tuntas benar segalanya
Jika kau pikir takdirmu akan baik baik saja, maka camkan dalam otakmu bahwa kau adalah mahluk paling SIAL di dunia
sehingga kau akan bekerja lebih keras
tidur lebih sedikit
melangkah lebih tegar
Menatap lebih jauh
Berteriak lebih lantang
bahkan dengan itu pun hidupmu belum tentu lebih baik
tapi yakinlah, karaktermu akan terbentuk centi demi centi, menuju perbaikan
-ara, 6/6/11

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme