Dreams are today's answers to tomorrow's questions (Edgar Cayce) - Dream as if you'll live forever. Live as if you'll die today (James Dean) - It Nice to be Important, but More Important to be Nice (my father) - If you fail to plan, you are planning a failure (anonymous)

25 March 2014

[Press Release] Setan Gentayangan tolak ‘Setan’ jadi Dewan

Minggu, 23 Maret 2014, sekelompok setan menampakkan wujudnya di pusat lalu lintas Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Ahmad Yani. Terlihat pocong, drakula, zombie, hingga tuyul berdemonstrasi, membawa papan bertulisan, serta membagikan flyer tuntutan pada pengendara yang lewat. Mereka juga berpawai sembari menunjukkan spanduk bertuliskan “Kami Setan Menuntut Manusia agar Tidak Memilih ‘Setan’ sebagai Dewan di Pemilu 9 April”.
Stop Pilih Setan jadi Dewan!
Stop Pilih Setan jadi Dewan!
Ternyata kelompok tersebut adalah Relawan Turun Tangan Bekasi - pendukung Anies Baswedan - yang membuat gerakan bertajuk #GENTAYANGAN. Ceritanya, para setan bangkit dari kubur karena merasa tersaingi, muncul ’setan-setan’ baru di senayan sebagai dewan. Setan baru itu lebih terkenal dan lebih berkuasa, sehingga eksistensi setan konvensional terancam.
Pernyataan Setan
Aditya Rian, salah satu inisiator acara ini, mengatakan bahwa acara ini adalah wujud kepedulian relawan Turun Tangan agar masyarakat Bekasi lebih mengenal calon wakilnya di pemilu legislatif mendatang. “#GENTAYANGAN itu awalnya wujud kepedulian kami. Pemilu sudah dekat, tapi masih banyak orang yang belum kenal calon wakilnya di parlemen,” kata Ara - sapaan akrabnya.

Ia juga menambahkan bahwa tujuan lain dari acara tersebut adalah untuk mendukung orang baik masuk ke politik. “Politik buruk karena ada banyak orang-orang tidak kompeten di dalamnya. Maka dari itu kami mengajak masyarakat Bekasi untuk memilih orang-orang baik untuk masuk ke politik,” pungkasnya.
Ada sekitar 15 peserta yang beraksi menjadi setan. Dan masing-masing di antara mereka membawa kertas karton yang bertuliskan ajakan-ajakan untuk tidak golput. Selain itu juga ada banyak relawan yang menyebar leaflet sosialisasi pemilu dan calon presiden yang mereka dukung, yaitu Anies Baswedan.

Acara ini diharapkan akan membawa efek positif dengan menyadarkan semua orang bahwa masa depan Indonesia lima tahun yang akan datang bisa ditentukan lewat pemilu. “Harapan ke depannya, semoga muncul legislator berkualitas yang paham masalah dan benar-benar mewakili kepentingan konstituennya,” tambah Aditya Rian.

Aksi ini telah diliput oleh berbagai media massa, seperti TribunNews, Radar Bekasi, yahooID, dan lainnya, baik cetak maupun online.
Liputan di Media Massa


Berikut foto-foto lengkap terkait aksi hari minggu kemarin.
Hargai Kami!
Pilih yang Berkualitas, jangan Setan!
STOP

Read More

13 March 2014

Asal Usul Voucher Discount



Kemunculan voucher dalam industri retail bukanlah hal yang mewah ataupun spesial di tengah persaingan bisnis yang makin ketat. Namun mengetahui asal usul voucher cukup menarik untuk kita ketahui. Dan siapa sangka bahwa kemunculan voucher merupakan pengembangan dari secarik kupon di tahun 1800-an. Adalah Coca Cola yang pertama kali merilis lembaran kupon komersial pada tahun 1887. Kupon itu untuk ditukar dengan sebotol sampel Coca Cola gratis. Delapan tahun kemudian, Coca Cola mengklaim bahwa produknya terjual dan dikonsumsi di setiap negara bagian di Amerika Serikat.

Kupon tersebut lahir dari pemikiran pebisnis asal Atlanta, Asa Candler. Penemuan Candler ini mengubah Coca Cola dari bisnis yang tidak diperhitungkan sebelumnya di industri minuman ringan menjadi perusahaan yang memimpin pasar. Tulisan tangannya terdapat pada kupon itu. Awalnya kupon itu menawarkan Coca Cola gratis lalu beranjak menjadi voucher diskon yang menawarkan harga murah untuk memperoleh minuman soda itu seharga 5 sen. Di antara tahun 1894 dan 1913, diperkirakan satu dari sembilan orang Amerika telah menerima Coca Cola gratis, dengan total 8,5 juta minuman.

Pada awal 1900-an, kupon berkembang menjadi voucher diskon dan mewabah menjadi strategi marketing yang terbukti bisa meningkatkan penjualan. Kehadiran voucher diskon ini  kala itu sangat membantu warga Amerika pada saat terjadi Great Depression, yang menjadi masa terkelam perekonomian Amerika Serikat dalam sejarah hidupnya. Keberadaan voucher diskon tradisional – di mana seorang kustomer harus mendatangi suatu tempat untuk memperolehnya -, semakin menyusut pada awal 1990-an. Tepatnya pada tahun 1992, tercatat 7,9 milyar program diskon dilakukan melalui kupon di Amerika Serikat. Penyusutan ini akibat keberadaan voucher diskon elektronik. Seperti kita ketahui saat ini kupon diskon elektronik sedang mengalami kepopulerannya terutama di Indonesia. Di negeri asalnya, Amerika Serikat, masa kejayaan voucher diskon elektronik terjadi pada awal tahun 2000-an.

Seperti apa masa depan voucher diskon elektronik belum bisa dipastikan. Tapi tampaknya akan mengalami titik jenuhnya juga, seiring perkembangan teknologi komunikasi terkini yang memungkinkan seorang customer membeli kebutuhannya hanya dengan scanning kode khusus yang terdapat di ponsel cerdasnya.

*Berbagai sumber
http://the-marketeers.com/archives/asal-usul-voucher-diskon.html#.UyKUGqI9Omw
Read More

05 February 2014

Kisah Memilukan Sang Proklamator di Akhir Kekuasaannya


Di momen 68 tahun kemerdekaan Indonesia ini, ingin saya bagikan sebuah kisah memilukan dari The Founding Father Soekarno pada masa-masa akhir kekuasaannya. Semua jasa dan perjuangan Soekarno seakan tidak ada nilainya jika menyimak kisah ini. Bagaimana kisahnya ? simaklah di bawah ini :
Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. “Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!”.Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. “Mana kakak-kakakmu” kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata “Mereka pergi ke rumah Ibu”. Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi “Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara”. Kata Bung Karno, lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan ia maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. “Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara. Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi “Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan…” Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. “Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu…keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara”. Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. “Pak kamu memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya”. Bung Karno tertawa “Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa…”
soekarno
Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. “Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini”. Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan. Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara. Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar. Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Saelan dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan. “Aku pergi dulu” kata Bung Karno dengan terburu-buru. “Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak” Saelan separuh berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
soekarno2
soekarno3
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi. Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. “Aku pengen duku, …Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang” Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata “Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil”. Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. “Mau pilih mana, Pak manis-manis nih ” sahut tukang duku dengan logat betawi kental. Bung Karno dengan tersenyum senang berkata “coba kamu cari yang enak”. Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak “Bapak…Bapak….Bapak…Itu Bapak…Bapaak” Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan” Ada Pak Karno, Ada Pak Karno….” mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno. Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. “Tri, berangkat ….cepat” perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.
Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!…
Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis. Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. “Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden” kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya. “Lhol, Mbak Rachma ada apa?” tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggemgam tangan Rachma lalu dengan menggemgam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto. “Lho, Mbak Rachma..ada apa?” kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawat di Wisma Yaso.Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi. Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapihkan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno. Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.
Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.
Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak. Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak “Hidup Bung Karno….hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno…!!!!!” Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.
Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak ” Sakit….Sakit ya Allah…Sakit…” tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.
Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. “Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik” Hatta menoleh pada isterinya dan berkata “Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini”. Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan “Bagaimana kabarmu, No” kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” kata Bung Karno dalam bahasa Belanda – Bagaimana pula kabarmu, Hatta – Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.
 soekarno4
Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.
soekarno5
Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer berdiri di jalan. Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang isinya hanya orang menangis karena Bung Karno meninggal. Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap, tapi sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir. Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat jenazah Bung Karno, di pinggir jalan Gatot Subroto banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno menolak dengan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, mereka diusiri tapi datang lagi. Tau sikap rakyat seperti itu tentara menyerah. Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang yang rajin menulis catatan hariannya pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih. Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno sontak tulisannya memuja Bung Karno.
 soekarno6
Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan dengan secara manusiawi. Mendapatkan keagungan yang luar biasa saat dia meninggal. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, mereka melambai-lambaikan tangan dan menangis. Mereka berdiri kepanasan, berdiri dengan rasa cinta bukan sebuah keterpaksaan. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah memperlakukan orang yang kalah, walaupun orang yang kalah itu adalah orang yang memerdekakan bangsanya, orang yang menjadi alasan terbesar mengapa Indonesia harus berdiri, Tapi dia diperlakukan layaknya binatang terbuang, semoga kita tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi…..
Kenyataan tragis yang dialami oleh Bung karno merupakan gambaran tragis kondisi politik dan sistim alih kekuasaan di Indonesia. Bung Karno telah memberikan seluruh catatan hidupnya untuk kebangkitan Bangsa Indonesia, walau pada akhirnya di Indonesia pula Bung Karno di campakkan.

Sumber: http://history1978.wordpress.com/2013/08/19/kisah-memilukan-sang-proklamator-di-akhir-kekuasaannya/
Read More

12 December 2013

Film Soekarno: Mengecewakan

Tulisan ini penuh dengan opini personal dan subjektifitas. Silakan berdiskusi.

Karena saya kecewa berat dengan Film ini.

Mungkin Actingnya Ario Bayu cukup baik. Mukanya sangat mirip walau perut buncitnya tidak dikecilkan terlebih dahulu. Sorot matanya sebagai Soekarno tajam, tapi layu; Terlalu sering menunduk dan menunjukkan inferioritas seorang bapak bangsa

Mungkin actingnya lukman sardi, maudy Koesnaidi, Sudjiwo Tedjo, pemeran bung kecil, sangat sangat baik. Top class actor & actress. Ferry salim jelek, kaku sekali dia menjadi orang jepang.

Mungkin kolosalitas film ini cukup baik. Penggambaran romusha, perlakuan pelacur di barak kamp tentara jepang, ledakan gudang minyak - yang sebenarnya tidak penting, pidato yang disambut teriakan ratusan orang, pemberontakan akibat 'salah arah kiblat', darah dan tembakan dimana-mana, penculikan rengasdengklok yang buruk, revolusi tak jadi jakarta anti klimaks.

Tetapi sebagai Soekarno-ist, yang membaca pemikirannya, mendengar pidato-pidatonya, menghabiskan biografi-biografi tentangnya; Saya kecewa berat dengan film ini.

Saya kecewa karena sutradara lebih menonjolkan sisi humanitas Soekarno dengan mengangkat romansa memadu Inggit Garnasih dengan Fatmawati. Cerita ini menyita seperempat bagian dari film. You need Rating, okay Fine! Tapi nggak gitu caranya memperlakukan bapak bangsa kita! Bangsa Amerika yang cenderung kasar bahkan tak pernah mem-film kan perselingkuhan Presiden Kennedy.

Dalam kasus ini, Soekarno memang 'menghianati' inggit dengan niat menikahi Fatmawati, tapi ada cara yang JAUH JAUH LEBIH BAIK dari apa yang di filmkan. Soekarno lebih terasa seperti bapak pedofil cabul yang tak tahu diri, yang akan diludahi oleh setiap wanita yang melewati makamnya.

Lebih jauh lagi, Indonesia punya rekam jejak buruk dengan feminisme. Ingat karir Aa Gym yang habis dipereteli media massa. Apa gerangan misi sang pembuat film?

Kedua, saya kecewa karena superioritas soekarno tidak dapat digambarkan dengan baik. Bagaimana debat pertamanya memesona kaum intelektual surabaya dan bandung, bagaimana ia membangun kantor arsitek sendiri dan menolak proyek pemerintah, bagaimana insiden penangkapan di podium karena bersikukuh meneriakkan indonesia merdeka, juga pledoi legendaris itu tidak digarap maksimal. Saya tidak mendapatkan soekarno yang ambisius, yang arogan, yang membara berapi meletupkan kemerdekaan. Saya lebih banyak melihat sisi lemah soekarno yang energinya tersedot, lagi lagi, oleh masalah personal. Soekarno lebih terkesan pasif, terkesan takluk didepan jepang sialan itu.

Halo bapak sutradara, Soekarno macam apa yang hendak engkau citrakan pada masyarakat indonesia? apa misi anda tuan?

Ketiga, ada hubungan apa film ini dengan Negara Jepang? Beberapa dialog sangat menyakiti nasionalisme saya. Contoh sesaat setelah adegan pengibaran bendera dan lagu indonesia raya pertama kali diperbolehkan oleh jepang, ada dialog seperti ini:

Jepang A: Mengapa anda begitu perhatian dengan hal seperti ini?

Jepang B: Kita telah mengambil banyak hal dari negara ini, sudah sepatutnya kita memberikan sesuatu yang pantas untuk mereka; Lagipula kita sudah terdesak (dalam perang)

MAN! Persepsi apa yang hendak dibentuk? Jepang murah hati? Jepang baik, jepang yang tahu balas budi?

Lalu ada dialog seperti ini dalam rapat petinggi jepang dan soekarno-hatta

Soekarno (kl tidak salah): Anda sudah berjanji untuk memberikan kemerdekaan indonesia

Pemimpin jepang: Iya, tapi kemerdekaan jepang pun sudah berada di tangan sekutu

Hatta: (menggebrak meja, bicara dalam bahasa jepang) Apakah ini janji seorang samurai?

pemimpin jepang (menghunus pedang, marah2 nggak jelas)

Pemimpin jepang 2 - Maeda kl tidak salah: Stop! Jangan tambah membuat malu bangsa kita! Kita sudah kalah, akui saja kekalahan itu dengan tegar!

Lalu adegan di rumah Laksamana Maeda, Soekarno-hatta dijemput dan diantar ke kumpulan orang siap mengawal proklamasi (panitia PPKI, dkk). Laksamana Maeda berkata: Biar saya tunjukkan janji seorang samurai. Persiapkan kemerdekaan, saya akan menjamin keamanan kalian.

Ada sentimen kuat bahwa jepang digambarkan sebagai bangsa yang baik hati, gentle, mengakui kekalahan dengan bijaksana. Ada yang aneh, mengapa menggambarkan penjajah sehalus itu? Takut dengan jepang? Dibiayai oleh mereka? Ayolah, Menggambarkan dialog seperti itu saya pikir sangat melukai hati rakyat Indonesia.

Apa misi anda, pak hanung?

Ditambah banyak momen yang anti klimaks, bahkan berlebihan. Sebut saja kala soekarno ingin melamar pacar belandanya - itu sinetron banget. Lalu tantangan soekarno untuk menebas lehernya kala kaum muda memaksa proklamasi secepatnya - malah dibuat humor. Momentum proklamasi terkesan biasa saja. Penulisan naskah dan penjahitan bendera ingin didramatisir tapi tak kena esensinya.

Di film Habibie, kita semua belajar tentang arti cinta dan kesetiaan yang sesungguhnya. Bagaimana orang terpintar di Indonesia, menjadi presiden, mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa negara. Habibie jauh punya banyak kecacatan dalam bidang administrasi negara dan kebijakan, namun citra yang dibuat oleh filmnya menggambarkan kebaikan yang akan dikenang selama lamanya oleh rakyat Indonesia

Kemudian apa pelajaran yang hendak disampaikan oleh penulis naskah film Soekarno ini? Presiden cabul yang suka berpoligami dan tak tahu terima kasih? Singa podium yang lemah kala berhadapan di rapat dan negosiasi dengan jepang? Pengkhianat rakyat yang dimanfaatkan jepang karena mampu "memenangkan hati rakyat" ?

Mana konsep "Jembatan Emas" yang beliau tanamkan sejak dulu - bahwa kemerdekaan adalah jembatan menuju revolusi yang lebih besar. Menjebol, lalu membangun. Mana konsep marhaenisme yang dibawa sejak ia kuliah di bandung - toh hanya digambarkan soekarno muda bersarung bertanya nama pada petani. Titik. Mengapa konsep konsep besar seperti itu tidak didoktrinasi pada penonton. Mana diskusi kebangsaan yang kami tunggu, Dimana Soekarno yang kami kenal?? Dimana bung?!

Saya menulis ini ditengah kegeraman. Semoga tulisan ini bisa memicu teman-teman yang sudah menonton, setidaknya untuk tidak menelan bulat-bulat informasi, dan berkeinginan membaca buku biografinya sendiri. Saya menyarankan satu buku Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams - sebagai sebuah otoklarifikasi atas persepsi yang dibuat film tersebut

Mari berdiskusi.
Read More

02 October 2013

Nggak lagi campaign for #LCSUI (portofolio)

Halo! Udah lama pengen ngisi kolom portofolio diatas, tapi nggak kesampean terus. Belum ada momentum ceritanya. Nah sekarang kebetulan ada nih karya terbaru, coba pengen di post dengan gaya yang lebih santai ya.

Hampir dua minggu lalu gw baca sebuah baliho besar di pelataran stasiun universitas indonesia. Ada lomba poster dan foto yang diadain sama Bank Indonesia, terkait sosialisasi E-Money di kampus. Wah, menarik! Selain hadiahnya gadget keren, kasus yang ditawarkan menantang insting ke-marketing-an gw (halah). Okelah, challenge accepted! Lets do It!


Hal pertama yang gw lakukan adalah menghubungi sang pemilik gadget. Siapa lagi pemilik Canon EOS termutakhir kalo bukan @pienovizar (putri athirah ulfah novizar). Sempet bareng di UI Studentpreneurs dan HIPMI UI, jadi cukup kenal dan percaya utk minjem kameranya.

Setelah mendapatkan device, inilah saatnya hunting foto! Bersama pacar, saya pun melakukan penjepretan di sudut-sudut kampus. Dan inilah konsep serta hasilnya setelah diedit:

Konsep: Nggak Lagi
Uang tentunya menjadi alat bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat setiap harinya. Dengan uang kita mampu membeli banyak hal, makanan, pakaian, hingga kebutuhan gaya hidup. Beberapa lembar kertas yang pada dasarnya tidak bernilai, dijaminkan oleh bank sentral sehingga mampu menjadi alat tukar yang sah dalam sebuah negara

Namun hari ini dunia semakin digital, pergaulan semakin global. Masyarakat menuntut adanya kepraktisan dalam hidup, yang membuat setiap negara - dan perusahaan berlomba memberikan inovasi yang memudahkan. E-Money menjadi salah satu terobosan luar biasa dalam dunia perbankan indonesia. Melalui penggunaannya, Emoney mampu menyediakan kepraktisan, keleluasaan bertransaksi, dan berbagai manfaat lain yang disediakan stakeholdersnya.

Maka dari itu konsep sosialisasi ini bertajuk "Nggak lagi", sebuah cerminan adanya budaya hidup baru yang meninggalkan tradisi lama. Inovasi yang membaharui kehidupan, membawa manusia pada level peradaban yang lebih tinggi dan meninggalkan konvensionalitas.

"Nggak lagi" mengulas kerugian yang dapat kita alami bila tidak menggunakan E-Money, sekaligus menjadi silogisme bahwa pengunaannya adalah sebuah tuntutan perkembangan jaman.

Penggunaan kata "Nggak' (instead of tidak) disesuaikan dengan pasar yang dituju. Mahasiswa sebagai kelas menengah muda lebih familiar dengan kata-kata keseharian dibandingkan yang baku. Penggunaan garis lurus panjang setelah "nggak lagi" mengisyaratkan banyak kerugian yang akan kita tinggalkan, bervariasi, serta mengisyaratkan bahwa poster sosialisasi ini lebih dari satu macam.

Berikut hasil karya yang dihasilkan:

1. Nggak Lagi | Kehilangan Uang
Pernah kehilangan uang dong? entah karena nyelip, atau jatuh saat merogoh handphone di saku. Dengan adanya E-Money, satu kartu dapat membuat berapun pecahan uang anda tidak akan tercecer. Apalagi kita mampu menganalisis transaksinya satu per satu rupiah.

Editing dilakukan pada contrass, brightness, dan blur sekitar uang. Kemudian wajah soekarno-hatta dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat sedih saat ditinggalkan pemiliknya

Lokasi: Taman FISIP UI - Psikologi UI
Waktu: Sekitar jam 3-5 sore
Kamera: Canon EOS
Model: Winda ayu Febrianti (kaki-sandal warna biru).
Camera-Man: Aditya Rian Anggoro


2. Nggak Lagi | Takut Kecopetan
Ide awalnya berasal dari ibu-ibu yang sering menyimpan uang di bra mereka dengan alasan keamanan. Namun karena tidak etis -serta modelnya nggak mau, akhirnya diilustrasikan di kaos kaki.

Ceritanya ini mau bayar di kantin, tapi mengeluarkan uang lewat kaus kaki. Ekspresi mbaknya mungkin nggak terlalu terlihat, tapi dibantu oleh mas-masi di pojok kiri (yang tidak terencana) seakan2 melihat hal aneh. Ini kok ada kaki naik ke atas meja? dengan E-Money, tidak lagi diperlukan menyimpan di kaos kaki, karena semua sudah aman.

Lokasi: Kantin FISIP UI
Waktu: Sekitar jam 3-5 sore
Kamera: Canon EOS
Model: Aditya Rian (kaki-sepatu cokelat), Mbak kantin fisip, mas kantin fisip
camera-Man: Winda Ayu Febriyanti


3. Nggak Lagi | Ngeri kena Bakteri
Sudah rahasia umum lah kalo uang tunai menyimpan sejuta bakteri, apalagi yang pecahan kecil (dengan transaksi lebih banyak dan tangan yang lebih bervariasi). Poster ini dengan eksplisit menunjukkan betapa berbahayanya memegang uang secara langsung, sekaligus menceritakan benefit E-Money yang tidak perlu menerima uang kembalian.

Tangan yang satu terlihat lebih hitam, diasumsikan sebagai pedagang yang memberikan uang kembalian. Asosiasinya adalah kotor dan kuman. Sedangkan tangan yang terlihat jijik sengaja dibuat putih dan tangan wanita, dengan jam tangan yang menunjukkan status sosial. Gambar bakteri dan kuman dibuat hiperbolik agar jelas maksud yang dituju.

Lokasi: Perpustakaan Pusat UI
Waktu: Sekitar jam 3-5 sore
Kamera: Canon EOS
Model: Aditya Rian (tangan pegang uang), Winda Ayu (tangan jijik)
camera-Man: Winda Ayu Febriyanti, Aditya Rian




4. Nggak Lagi | Repot Recehan
Gambar ini mengilustrasikan wanita yang sedang ingin membayar makanan, tapi uangnya recehan semua dan repot untuk memberikannya pada pedagang. Dengan E-Money, tidak perlu lagi ada kerepotan seperti ini

Lokasi: Kantin Perpustakaan Pusat UI
Waktu: Sekitar jam 3-5 sore
Kamera: Canon EOS
Model: Winda Ayu Febriyanti
Camera-Man: Aditya Rian


* * *

Demikian portofolio yang saya buat. Alhamdulillah sampai saat ini dua dari 5 karya ini masuk nominasi, bersaing dengan 7 karya lainnya (walaupun akhirnya tidak juara karena kalah retweet).

Pesan moral yang ingin diberikan sederhana, bahwa seperti inilah anak marketing bekerja. kita bukan desainer, kita bukan fotografer handal. Tapi kita menyampaikan pesan pada konsumen dengan efektif, sehingga harapannya ada behavioral change yang terjadi. Media hanyalah perantara, namun media yang efektif membawa dampak signifikan bagi stakeholders-nya.

Sekali lagi, inilah bedanya desainer dan marketeer! Yeah! All hail Marketing! HAHAHAAH *sombong*

Thank you for reading!
Read More

30 September 2013

STOP LEARNING!


Just watch the video, i'm speechless...
for your information, here's the speakers bio


Jacob Barnett is an American mathematician and child prodigy. At 8 years old, Jacob began sneaking into the back of college lectures at IUPUI. After being diagnosed with autism since the age of two and placed in his school's special ed. program, Jacob's teachers and doctors were astonished to learn he was able to teach calculus to college students.

At age nine, while playing with shapes, Jacob built a series of mathematical models that expanded Einstein's field of relativity. A professor at Princeton reviewed his work and confirmed that it was groundbreaking and could someday result in a Nobel Prize. At age 10, Jacob was formally accepted to the University as a full-time college student and went straight into a paid research position in the field of condensed matter physics. For his original work in this field, Jacob set a record, becoming the world's youngest astrophysics researcher. His paper was subsequently accepted for publication by Physical Review A, a scientific journal shared on sites such as NASA, the Smithsonian, and Harvard's webpage. Jacob's work aims to help improve the way light travels in technology.

Jacob is also CEO and founder of Wheel LLC, a business he started in his mom's garage, and is in the process of writing a book to help end "math phobia" in his generation.

Jacob's favorite pastime is playing basketball with the kids at his charity, Jacob's Place. It is a place where kids with autism are inspired every day to be their true authentic selves...just like Jacob.

STOP LEARNING, START THINKING, START CREATING!
Read More