Skip to main content

Posts

[Press Release] Setan Gentayangan tolak ‘Setan’ jadi Dewan

Minggu, 23 Maret 2014, sekelompok setan menampakkan wujudnya di pusat lalu lintas Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Ahmad Yani. Terlihat pocong, drakula, zombie, hingga tuyul berdemonstrasi, membawa papan bertulisan, serta membagikan flyer tuntutan pada pengendara yang lewat. Mereka juga berpawai sembari menunjukkan spanduk bertuliskan “Kami Setan Menuntut Manusia agar Tidak Memilih ‘Setan’ sebagai Dewan di Pemilu 9 April”. Stop Pilih Setan jadi Dewan! Ternyata kelompok tersebut adalah Relawan Turun Tangan Bekasi - pendukung Anies Baswedan - yang membuat gerakan bertajuk #GENTAYANGAN. Ceritanya, para setan bangkit dari kubur karena merasa tersaingi, muncul ’setan-setan’ baru di senayan sebagai dewan. Setan baru itu lebih terkenal dan lebih berkuasa, sehingga eksistensi setan konvensional terancam. Aditya Rian, salah satu inisiator acara ini, mengatakan bahwa acara ini adalah wujud kepedulian relawan Turun Tangan agar masyarakat Bekasi lebih mengenal...

Asal Usul Voucher Discount

Kemunculan voucher  dalam industri retail bukanlah hal yang mewah ataupun spesial di tengah persaingan bisnis yang makin ketat. Namun mengetahui asal usul voucher cukup menarik untuk kita ketahui. Dan siapa sangka bahwa kemunculan voucher merupakan pengembangan dari secarik kupon di tahun 1800-an. Adalah Coca Cola yang pertama kali merilis lembaran kupon komersial pada tahun 1887. Kupon itu untuk ditukar dengan sebotol sampel Coca Cola gratis. Delapan tahun kemudian, Coca Cola mengklaim bahwa produknya terjual dan dikonsumsi di setiap negara bagian di Amerika Serikat. Kupon tersebut lahir dari pemikiran pebisnis asal Atlanta, Asa Candler. Penemuan Candler ini mengubah Coca Cola dari bisnis yang tidak diperhitungkan sebelumnya di industri minuman ringan menjadi perusahaan yang memimpin pasar. Tulisan tangannya terdapat pada kupon itu. Awalnya kupon itu menawarkan Coca Cola gratis lalu beranjak menjadi voucher diskon yang menawarkan harga murah untuk memperoleh m...

Kisah Memilukan Sang Proklamator di Akhir Kekuasaannya

Di momen 68 tahun kemerdekaan Indonesia ini, ingin saya bagikan sebuah kisah memilukan dari The Founding Father Soekarno pada masa-masa akhir kekuasaannya. Semua jasa dan perjuangan Soekarno seakan tidak ada nilainya jika menyimak kisah ini. Bagaimana kisahnya ? simaklah di bawah ini : Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. “Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!”.Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. “Mana kakak-kakakmu” kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata “Mereka pergi ke rumah Ibu”. Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijay...

Film Soekarno: Mengecewakan

Tulisan ini penuh dengan opini personal dan subjektifitas. Silakan berdiskusi. Karena saya kecewa berat dengan Film ini. Mungkin Actingnya Ario Bayu cukup baik. Mukanya sangat mirip walau perut buncitnya tidak dikecilkan terlebih dahulu. Sorot matanya sebagai Soekarno tajam, tapi layu; Terlalu sering menunduk dan menunjukkan inferioritas seorang bapak bangsa Mungkin actingnya lukman sardi, maudy Koesnaidi, Sudjiwo Tedjo, pemeran bung kecil, sangat sangat baik. Top class actor & actress. Ferry salim jelek, kaku sekali dia menjadi orang jepang. Mungkin kolosalitas film ini cukup baik. Penggambaran romusha, perlakuan pelacur di barak kamp tentara jepang, ledakan gudang minyak - yang sebenarnya tidak penting, pidato yang disambut teriakan ratusan orang, pemberontakan akibat 'salah arah kiblat', darah dan tembakan dimana-mana, penculikan rengasdengklok yang buruk, revolusi tak jadi jakarta anti klimaks. Tetapi sebagai Soekarno-ist, yang membaca pemikirannya, mendenga...

Nggak lagi campaign for #LCSUI (portofolio)

Halo! Udah lama pengen ngisi kolom portofolio diatas, tapi nggak kesampean terus. Belum ada momentum ceritanya. Nah sekarang kebetulan ada nih karya terbaru, coba pengen di post dengan gaya yang lebih santai ya. Hampir dua minggu lalu gw baca sebuah baliho besar di pelataran stasiun universitas indonesia. Ada lomba poster dan foto yang diadain sama Bank Indonesia, terkait sosialisasi E-Money di kampus. Wah, menarik! Selain hadiahnya gadget keren, kasus yang ditawarkan menantang insting ke-marketing-an gw (halah). Okelah, challenge accepted! Lets do It! Hal pertama yang gw lakukan adalah menghubungi sang pemilik gadget. Siapa lagi pemilik Canon EOS termutakhir kalo bukan @pienovizar (putri athirah ulfah novizar). Sempet bareng di UI Studentpreneurs dan HIPMI UI, jadi cukup kenal dan percaya utk minjem kameranya. Setelah mendapatkan device, inilah saatnya hunting foto! Bersama pacar, saya pun melakukan penjepretan di sudut-sudut kampus. Dan inilah konsep serta hasilnya setelah d...

STOP LEARNING!

Just watch the video, i'm speechless... for your information, here's the speakers bio Jacob Barnett is an American mathematician and child prodigy. At 8 years old, Jacob began sneaking into the back of college lectures at IUPUI. After being diagnosed with autism since the age of two and placed in his school's special ed. program, Jacob's teachers and doctors were astonished to learn he was able to teach calculus to college students. At age nine, while playing with shapes, Jacob built a series of mathematical models that expanded Einstein's field of relativity. A professor at Princeton reviewed his work and confirmed that it was groundbreaking and could someday result in a Nobel Prize. At age 10, Jacob was formally accepted to the University as a full-time college student and went straight into a paid research position in the field of condensed matter physics. For his original work in this field, Jacob set a record, becoming the world's youngest astro...

Just Do It Now!

Dua tahun lalu, saya dan teman-teman menginisiasi sebuah acara yang mengubah peta kewirausahaan kampus dan nasional. UI Studentpreneurs. Ketika harus membuat jargon untuk toss di akhir rapat, dengan ngasalnya kami menyuarakan, "Just Do It Now". Alasannya simpel, entrepreneur ya action. Rencana ada, matang, tapi action jauh lebih bermakna dari tiap angka di layar komputer. Just do It Now juga berarti, "udah lakuin aja gausah banyak mikir, ntar juga nemu solusinya kalo dijalanin". Bisa juga berarti apa yang bisa dilakukan sekarang, ya lakukan sekarang. Jangan tunggu deadline, apalagi soal tugas kepanitiaan. Hari ini gw ketawa sendiri nginget hal itu. Just do It Now sepertinya pantas menjadi motto hidup gw sampai akhir tahun ini. Well, dengan segudang rencana yang ada di otak, bahkan untuk ngejalaninnya aja susah banget. Nggak susah literally, tapi susah actionnya. Susah ngelangkah satu langkah aja. Entah males, entah nunda-nunda, entah apalah alasan gw pokokny...